Kamis, 16 Oktober 2014

Pengetahuan Tentang statiktika

   1. Jenis-jenis skala pengukuran ada 4, yaitu:
·         skala nominal adalah skala yang digunakan untuk mengklasifikasikan obyek amatan berdasarkan sifat maupun cirinya.
·         skala ordinal disebut juga skala berjenjang adalah skala digunakan untuk mengklasifikasi obyek amatan berdasarkan jenjang tanpa memperhatikan jarak antar klasifikasi yang satu dengan lainnya.
·         skala interval adalah skala yang digunakan untuk menujukkan adanya pengelompokan data yang mempunyai besaran dan jarak yang sama.
·         skala rasio pada dasarnya sama dengan skala interval. Perbedaannya, angka nol (0) pada skala rasio mempunyai sifat mutlak (absolut).
2   2. Analisis diskriptif adalah susunan data angka yang diurut menurut besarnya atau katagorinya. Susunan data angka tersebut disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
3.      3. Tehnik analisis korelasi digunakan untuk mengetahui ada tidaknya kecenderungan hubungan antara dua variable atau lebih. Variable-variable yang dianalisis hubungannya adalah variable tergantung (dependent variable) dengan variable-variable bebas (independent variable).
4.     4.  Uji beda mean ada dua, yaitu: Uji-t cuplikan kembar dan Uji-t amatan ulangan
·         Uji-t cuplikan kembar adalah tehnik statistic yang digunakan untuk menguji perbedaan mean sampel random bebas atau sampel mandiri (independent sample).
·         Uji-t amatan ulangan digunakan untuk menganalisis perbedaan dua mean sample yang berkorelasi, atau sampel tak mandiri (dependent sample)
5.     5.  Ada tiga tehnik analisis varian yaitu tehnik analisis varian klasifikasi tunggal, analisis varian klasifikasi ganda, dan analisis varian amatan ulangan.
·         Analisis varian klasifikasi tunggal disebut juga analisis varian satu jalan atau analisis varian sederhana. Analisis varian klasifikasi tunggal digunakan untuk menguji perbedaan dua mean kelompok atau lebih sampel bebas atau sampel mandiri (independent sampel).
·         Tehnik analisis varian ganda disebut juga tehnik analisis varian dua jalan, yaitu analisis varian untuk sampel-sampel berhubungan (berkorelasi). Tehnik analisis varian ini digunakan membedakan mean beberapa kelompok obyek penelitian sekaligus untuk dua jenis variable.

·         Analisis varian amatan ulangan digunakan untuk menghitung perbedaan amatan ulangan selama diberi perlakuan yang diamati setiap interval waktu tertentu terhadap satu kelompok penelitian. Dengan kata lain, analisis varian amatan ulangan untuk menghitung perkembangan satu kempok penelitian akibat perlakukan yang diberikan selama kurun waktu tertentu.

Penanganan Pertama Cidera dan Cidera Olahraga (PPC dan CO)

Nama               : M. Arifin
NIM                : 120631420008
Jurusan            : Pendidikan Kepelatihan Olahraga
Angkatan        : 2012
Tema               : “Kesalahan-kesalahan mendasar dalam dunia pencegahan dan rehabilitasi olahraga”
“Kesalahan Para Official Tim Sepakbola Amatir di Daerah-Daerah Dalam Menangani Cidera Pada Pemainnya”
Sepakbola merupakan suatu olahraga yang paling popular didunia. Semua orang suka dengan olahraga ini. Dari anak kecil hingga orang dewasa, bahkan hingga manula. diIndonesia sendiri sepakbola sudah menjadi permainan bagi setiap kalangan, didaerah-daerah maupun dikota. Selain banyak klub-klub yang telah terkenal secara nasional, didaerah-daerah juga ada banyak klub-klub sepakbola yang juga ikut dalam kompetisi-kompetisi namun masih dalam tingkat amatir.
Contohnya, didaerah Kabupaten Blitar setiap satu tahun sekali pasti ada kompetisi amatir antar desa (atau sering disebut dengan nama Gala Gedek oleh orang-orang Blitar). Pada kompetisi ini biasanya dilaksanakan setiap bulan Agustus, untuk memperingati Hari Kemerdekaan. Namun dalam pelaksanaannya karena adu gengsi antar desa, maka banyak tim yang memperagakan permainan yang keras demi meraih kemenangan. Akibatnya pemain-pemain muda yang ikut dalam kompetisi tersebut banyak yang mengalami cidera. Dari cidera ringan hingga cidera berat.
Dalam setiap tim yang berlaga, jarang sekali yang menggunakan jasa medis yang sudah professional, atau minimal mengerti tentang Penanganan Pertama Cidera Olahraga (PPCO). Akibatnya banyak pemain yang seharusnya hanya mengalami cidera yang ringan, menjadi cidera yang parah karena kesalahan dalam menanganinya. Contohnya, pada seorang pemain yang mengalami dislaction (terkilir), kebanyakan para pemain akan dilakukan penanganan medis dengan cara langsung dipijit. Padahal jika ada pembekakan pada pembuluh darah, maka bisa terjadi pembuluh darah tersebut akan pecah, dan akan lebih membuat cidera tersebut semakin parah.
Seharusnya jika dalam keadaan pemain mengalami terkilir, maka harus didiamkan terlebih dahulu, atau dikompres dengan es, agar jika ada pembuluh darah yang pecah darah akan berhenti dengan kompres es tersebut. Es juga bisa meminimalisir rasa sakit pada daerah yang terkilir.

Saran dari penulis untuk masalah tersebut adalah walaupun itu hanya kompetisi Gala Gedek (kompetisi antar Desa), sebaiknya para pemain tidak terlalu bermain kasar, karena kasihan bagi para pemain muda yang berpotensi punya kemampuan yang baik dapat cidera parah dan tidak bida mengembangkan bakatnya hanya karena bermain dikompetisi antar desa. Kemudian untuk meminimalisir terjadinya cidera parah ataupun kesalahan penanganan pada pemain yang mengalami cidera, maka setiap tim seharusnya memiliki minimal 1 orang yang ahli dalam bidang penangan pertama cidera olahraga. Selain itu bagi panitia, sebaiknya menghukum dengan tegas kedara para pemain maupun tim yang melakukan tindakan yang membahayakan bagi kelanjutan pemain-pemain muda yang mempunyai bakat dan berpotensi untuk lebih baik lagi di tingkat yang lebih baik.

Tes Standart Untuk Cabang Bola Voli

Tes Standart Untuk Cabang Bola Voli
AAHPER Volleyball Skill Test
Petunjuk pelaksanaan tes keterampilan passing bolavoli (AAHPER Voleyball Skill Test dari Strand and Wilson (1993:136-141), terdiri dari dua item tes yaitu ; 1) pass bawah, 2) pass atas.
1.      Tujuan : untuk mengukur kemampuan dasar bolavoli.
2.      Validitas dan Reliabilitas: face validity dan content validity. Dalam tes manual tidak terdapat perhitungan reliabilitasnya, tetapi tidak ada item tes yang reliabilitasnya kurang dari 0.70.
3.      Umur dan jenis kelamin: untuk siswa SMP/MTsN, SMU, dan putra – putrid
4.      Personel: tes ini membutuhkan beberapa scorer pada tiap station, timer untuk tes passing, servis dan beberapa siswa untuk membantu menerima dan mengembalikan bola.
5.      Perlengkapan: bolavoli, kapur, tali, stop watch, pita pengukur, net yang standar, score card dan pensil.
6.      Tempat : ukuran lapangan bolavoli yang standar.
7.      Petunjuk Pelaksanaan :
Passing :
·         Lapangan tes passing dilengkapi dengan tali setinggi 8 feet dari tanah dipasang menyeberang lapangan dengan jarak 10 feet dari net. Passing zone berada dibawah tali dengan ukuran 4 x 4 feet. Untuk dua scoring zone terletak pada samping kanan dan samping kiri lapangan dekat net dengan ukuran 6 x 4 feet. Scorring zone sejauh 3 feet dari net dan 3 feet dari garis panjang tengah lapangan.
·         Petunjuk pelaksanaan: untuk memulai, tosser berada pada posisi dan mengoper bola kepada passer yang akan berusaha menge-pass bola setinggi 8 feet ke scorring zone. Percobaan 10 kali ke kanan dan 10 kali ke kiri. Bola yang mengenai tali, net atau pun jatuh di luar area tidak mendapatkan poin.
·         Scorring (penilaian): satu poin untuk bola yang sah dan masuk ke daerah sasaran. Total poin adalah jumlah semua percobaan sebanyak 20 kali.

·         Keterangan : untuk tes passing, jenis tes ini sama pada pass bawah dan pass atas.

DOMAIN PSIKOMOTOR DALAM BELAJAR GERAK

Oleh:
M. Arifin (120631420008)
Arum Sih Marwati Parasari (120631420025)
Farid Aprianova (120631420009)



UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
JURUSAN PENDIDIKAN KEPELATIHAN OLAHRAGA
AGUSTUS 2014


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Manusia mulai dari saat lahir hingga mati pasti bergerak. Walaupun saat tidur, manusia pasti melakukan gerakan. Manusia bergerak dalam dua metode, yaitu bergerak secara sadar dan tidak sadar. Yang yang sadar yakni melakukan aktivitas sehari, seperti berjalan, berlari, melompat, melompat, dan lain-lain. Sedangkan gerakan yang tanpa sabar yakni gerakan-gerakan pada organ dalam, seperti gerakan diafragma saat melakukan pernafasan, berkedip, dan lain-lain.
Ada beberapa Istilah yang sering digunakan dalam studi tentang gerak manusia (human movement). Istilah tersebut adalah ilmu gerak, kinesiologi, human performance, dan pendidikan jasmani. Istilah istilah ini sering kali terdengar saat ada perbincangan tentang gerak. Selain istilah-istilah tersebut, saat ini mulai sering terdengar juga istilah yang membahas tentang gerak manusia, yaitu pertumbuhan dan perkembangan motorik. Pada ilmu ini pembahasan tentang gerak lebih detail, mulai dari saat manusia mulai tumbuh dalam janin hingga mati. Dan juga pergerakan manusia dari mulai dibuahi oleh induk telur hingga manusia muncul dan mengalami berbagai perubahan hingga mati.
Dalam makalah yang dibuat oleh Ma’mun dan Saputra, mengatakan bahwa perilaku gerak manusia terbagi dalam tiga bagian, yaitu teori gerak (motor control), belajar gerak (motor learning), dan perkembangan gerak (motor development). Teori gerak adalah studi mengenai factor-faktor fungsi syaraf yang mempengaruhi gerak manusia. Belajar gerak merupakan studi tentang proses keterlibatan dalam memperoleh dan menyempurnakan ketrampilan gerak sangat terkait dengan latihan dan pengalaman individu bersangkutan. Dan perkembangan gerak merupakan perubahan dalam perilaku gerak yang mereflesikan interaksi dari kematangan organisme dan lingkungannya.
Menurut dari pengertian dan penjelasan diatas, maka penulis berinisiatif untuk menjabarkan tentang psikomotor, belajar, dan gerak disatukan dalam tema “domain psikomotor dalam belajar gerak”. Makalah ini dibuat guna untuk memenuhi tugas mata kuliah pertumbuhan dan perkembangan motorik yang dibimbing oleh Dr. Supriadi, M. Kes.
1.2  Rumusan Masalah
Dalam makalah ini aka ada beberapa rumusan masalah-masalah yang akan dijelaskan secara rinci. Rumusan masalah tersebut yaitu:
1.2.1        Apa itu Domain Psikomotor?
1.2.2        Apa itu Belajar?
1.2.3        Apa itu Gerak?
1.2.4        Apa itu Domain Psikomotor Dalam Belajar Gerak?
1.3  Tujuan Penulisan
Agar makalah ini lebih berguna untuk penulis, dosen pembimbing dan juga pembaca, maka ada beberapa tujuan dalam penulisan ini makalah ini, yaitu:
1.3.1        Untuk memenuhi tugas mata kuliah Pertumbuhan dan Perkembangan Motorik
1.3.2        Agar dapat memahami tentang domain psikotor pada manusia
1.3.3        Agar dapat memahami tentang belajar
1.3.4        Agar dapat memahami tentang gerak
1.3.5        Agar dapat memahami tentang domain psikomotor dalam belajar gerak











BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Domain Psikomotor
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia kata “domain” artinya adalah wilayah; tanah. Domain juga sering diidentikan dengan internet. Banyak para ahli yang mengartikan domain berkaitan dengan internet. Misalnya Irene Joos dan Nancy mendefinikan kata domain adalah identitas sebuah website di internet. Dan Yuhefizar mengatak bahwa domain adalah nama unik yang dimiliki sebuah website yang terdiri dari dua bagian dan dipisahkan oleh sebuah titik. Namun dalam makalah ini domain bukan diartikan sebagai wensite, namun domain yang berhubungan dengan perkembangan sistem gerak manusia atau kemampuan motorik manusia.
Kemampuan motorik adalah suatu yang mendasar dalam kehidupan setiap orang. Gerak adalah suatu penampilan yang ditampilkan oleh manusia secara nyata dan dapat diamati. Kemampuan motorik penting dipelajari dalam pelajaran pendidikan jasmani karena kemampuan gerak merupakan bagian dari ranah psikomotorik.  Ada tiga komponen dasar dominan psikomotor, yaitu: domain yang bersifat jasmani (psysical), kesegaran (fitness), dan permainan (play). Komponen kesegaran menunjuk pada kuantitas gerakan, atau seberapa lama gerakan yang dilakukan dapat dipertahankan, dan komponen bermain menyajikan akumulasi perkembangan domain psikomotor. Adapun unsur-unsur kemampuan motorik terdiri dari: (1) kekuatan, (2) kecepatan, (3) power, (4) ketahanan, (5) keseimbangan, (6) fleksibilitas, dan (7) koordinasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan motorik adalah faktor tampilan dan faktor lingkungan. Faktor tampilan paling sering berpengaruh pada kemampuan motorik tertentu, faktor tampilan dapat berupa ukuran tubuh, pertumbuhan fisik, sistem saraf, kekuatan dan berat tubuh.
Dari beberapa ahli psikologi pendidikan yang relative sederhana namun bisa diterima oleh masyarakat luas, yaitu teori dari Benyamin Bloom. Benyamin Bloom mengatakan bahwa proses pembelajaran yang dialami manusia itu menempuh tiga jalur utama, yaitu pertama yang berkaitan dengan domain kognitif, kedua domain efektif, dan yang ketiga domain psikomotor. Lewat pendapatnya tersebut, maka banyak pamikiran-pemikiran yang dimiliki oleh masyarakat tentang proses belajar mulai berkembang dan mulai berfikir bahwa proses belajar tidak hanya ada diranah atau lingkungan sekolah saja, namun proses belajar ada disekitar masyarakat luas.
Pengertian dari ketiga jalur atau domain tersebut, yaitu domain kognitif adalah domain yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan intelektual, seperti pengertian, pengetahuan, dan ketrampilan berfikir. Domain afektif yaitu berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri. Dan domain psikomotor adalah domain yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek ketrampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.
Jadi dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa domain psikomotor itu adalah cara atau proses belajar yang bersifat kemampuan motorik manusia. Manusia tidak hanya belajar untuk mengembangkan pola berfikir tentang ilmu pengetahuan saja, namun juga perlu untuk belajar untuk mengembangkan pola kreatifitas dengan cara mengembangkan domain psikomotornya. Domain psikomotor ini sebenarnya sudah mulai sejak manusia dilahirkan didunia. Contohnya bayi mulai mengenali keadaan sekitar atau lingkungannya, hal ini dilakuannya untuk beradaptasi, karena manusia mempunyai salah satu sifat yaitu adaptasi.
Jadi domain psikomotor itu perlu diketahui oleh setiap manusia, karena domain psikomotor berperan penting dalam proses perkembangan manusia menuju dewasa. Selain itu jika sistem kreatifitas manusia dikembangkan, maka akan membuat manusia tersebut menjadi manusia yang kreatif, dengan kretifitas menjadikan hidup menusia menjadi berwarna dan lebih bermakna.

2.2 Belajar
Belajar pada hakikatnya selalu terintegrasi dengan kehidupan manusia, demikian juga binatang. Peristiwa yang dialami baik oleh manusia ataupun hewan pada dasarnya merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dalam arti kata bahwa tanpa belajar manusia ataupun binatang, maka kelangsungan hidupnya akan terancam. Hergenhahn dan Olson (1993) menyimpulkan bahwa, kemampuan one trial learning dari binatang merupakan pelengkap dari instingnya agar binatang tersebut dapat mempertahankan kehidupannya. Demikian pula halnya dengan manusia, agar mereka bisa terus mempertahankan hidupnya, maka mereka dituntut untuk terus belajar, belajar, dan belajar hingga manusia tersebut maninggal.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Hergenhahn dan Olson (1993) menghasilkan definisi belajar, yaitu belajar adalah sebagian dari perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku yang merupakan hasil dari pengalaman dan tidak bercirikan tanda-tanda yang disebabkan oleh pengaruh yang bersifat sementara seperti yang disebabkan oleh sakit, kelelahan atau pengaruh obat-obatan. Ketika membaca definisi belajar dari Hergenhahn dan Olson tersebut maka dapat disimpulkan bahwa, mereka adalah peneliti yang beraliran behavioris, karena mereka menempatkan perilaku sebagai indikator perubahan yang diakibatkan oleh belajar. Oleh karena itu, maka orang yang beraliran kognitivis akan mendebatkan bahkan akan menolaknya. Contohnya, Mayer (1987) yang beraliran kognitivis mengajukan definisi belajar sebagai perubahan yang relative permanen dalam pengetahuan (knowledge) dan perilaku seseorang yang disebabkan oleh pengalaman.
Banyak ahli yang mengemukakan tentang jenis-jenis belajar. Salah satunya yaitu Robert Gagne (1977), mengemukakan lima domain tentang jenis belajar, yaitu: 1) ketrampilan gerak, yaitu gerakan berorientasi yang diwakili oleh oleh koordinasi respon terhadap tanda-tanda tertentu, 2) informasi verbal, yaitu dicontohkan melalui fakta-fakta, prinsip-prinsip, dan generalisasi, yang dianggap sebagai pengetahuan, 3) ketrampilan intelektual, yaitu diwakili oleh diskriminasi, peraturan, dan konsep-konsep (penerapan pengetahuan), 4) strategi kognitif, yaitu ketrampilan-ketrampilan yang terorganisir secara internal yang menentukan pembelajaran seseorang, pengingatan dan pemikiran, 5) sikap, yaitu perilaku efektif seperti perasaan.
Kemudian Mayer (1987) mencoba memberikan batasan-batasan jenis belajar menjadi empat, yaitu: 1) pembelajaran respon seperti yang ditunjukan oleh pembelajaran behaviorisme, 2) pembelajaran konsep, yang menunjuk pada penguasaan peraturan klasifikasi baru, yang didasarkan pada pengalaman, 3) pembelajaran verbal hapalan, yang melibatkan kemampuan untuk menghasilkan suatu dftar respon verbal, 4) pembelajaran prosa, yang menunjuk pada pembelajaran sematik baru atau prosedur pengetahuan dari tulisan atau prosa yang menyatakan secara verbal.
2.3 Gerak
Gerak adalah suatu penampilan yang ditampilkan oleh manusia secara nyata dan dapat diamati. Menurut pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa gerak adalah perilaku manusia yang setiap saat dilakukan dan dapat diamati. Kemampuan motorik penting dipelajari dalam pelajaran pendidikan jasmani karena kemampuan gerak merupakan bagian dari ranah psikomotorik. Ada tiga komponen dasar dominan psikomotor, yaitu: domain yang bersifat jasmani (psysical), kesegaran (fitness), dan permainan (play). Komponen bersifat jasmani terkait dengan status anatomis atau struktural. Komponen motorik berhubungan dengan kualitas gerak atau cara melakukan gerakan. Komponen kesegaran menunjuk pada kuantitas gerakan, atau seberapa lama gerakan yang dilakukan dapat dipertahankan, dan komponen bermain menyajikan akumulasi perkembangan domain psikomotor.
Adapun unsur-unsur kemampuan motorik terdiri dari: (1) kekuatan, (2) kecepatan, (3) power, (4) ketahanan, (5) keseimbangan, (6) fleksibilitas, dan (7) koordinasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan motorik adalah faktor tampilan dan faktor lingkungan. Faktor tampilan paling sering berpengaruh pada kemampuan motorik tertentu, faktor tampilan dapat berupa ukuran tubuh, pertumbuhan fisik, sistem saraf, kekuatan dan berat tubuh. Beberapa ahli menganggap bahwa sistem saraf merupakan faktor utama dalam penggunaan kemampuan motorik anak. Kesulitan terbesar untuk mengembangkan sistem saraf adalah cara mengontrol banyaknya kegiatan sendi gerak tubuh per unit. Pada satu lengan saja kira-kira ada 2600 unit gerak, 26 otot, dan 4 sendi. Namun melalui latihan, masing-masing unit gerak akan terkoordinasi. Faktor lingkungan juga mempengaruhi kemampuan motorik, motivasi untuk bergerak mungkin karena adanya stimulasi dari lingkungan, misalnya melihat sesuatu hal yang baru atau unik maka seseorang akan menuju ke arah tersebut. Sebaliknya kurang gerak untuk melakukan gerakan secara aktif akan menghambat perkembangan kemampuan motorik.
Maka perlu adanya ketrampilan gerak, agar manusia dapat melakukan setiap kegiatannya dengan baik dan benar. Keterampilan dapat menunjuk pada aksi khusus yang ditampilkan atau pada sifat di mana keterampilan itu dilaksanakan.  Banyak kegiatan dianggap sebagai suatu keterampilan, atau terdiri dari beberapa keterampilan dan derajat penguasaan yang dicapai oleh seseorang menggambarkan tingkat keterampilannya. Hal ini bisa terjadi karena kebiasaan yang sudah diterima umum untuk menyatakan bahwa satu atau beberapa pola gerak atau perilaku yang diperhalus bisa disebut keterampilan, contohnya menulis, memainkan gitar atau piano, menyetel mesin, berjalan, berlari, melompat, dan sebagainya.
Jadi, untuk memahami konsep gerak ini kita harus memahami secara komprehensif mengenai sub-sub disiplin keilmuan yang ada didalamnya. Apabila hanya sebagian yang dipahami, maka akan membuat sukar untuk lebih cermat memilah dan memilih istilah yang sesuai dengan substansinya.

2.4 Domain Psikomotor Dalam Belajar Grak
Domain psikomotor adalah cara atau proses belajar yang bersifat kemampuan motorik manusia. Sedangkan belajar gerak merupakan studi tentang proses keterlibatan dalam memperoleh dan menyempurnakan ketrampilan gerak sangat terkait dengan latihan dan pengalaman individu bersangkutan. Ada tiga tahapan dalam belajar gerak, yaitu: 1) tahapan verbal kognitif dan proses membuat keputusan lebih menonjol, 2) tahapan gerak memiliki makna sebagai pola gerak yang dikembangkan sebaik mungkin agar peserta didik atau atlit lebih trampil, 3) tahapan otomatisasi artinya memperhalus gerakan agar peforma peserta didik atau atlit menjadi lebih padu dalam melakukan gerakannya.
Jadi domain psikomotor dalam belajar gerak itu berhubungan dalam proses belajar gerak. Dalam belajar gerak manusia menggukan tiga komponen dasar dalam domain psikomotor, yaitu: 1) domain yang bersifat jasmani (psycal), kesegaran (fitness), dan permainan (play). Komponen bersifat jasmani terkait dengan status anatomis atau struktural. Komponen motorik berhubungan dengan kualitas gerak atau cara melakukan gerakan. Komponen kesegaran menunjuk pada kuantitas gerakan, atau seberapa lama gerakan yang dilakukan dapat dipertahankan, dan komponen bermain menyajikan akumulasi perkembangan domain psikomotor.





BAB III
PENUTUP

Penutup
Domain psikomotor itu adalah cara atau proses belajar yang bersifat kemampuan motorik manusia. Manusia tidak hanya belajar untuk mengembangkan pola berfikir tentang ilmu pengetahuan saja, namun juga perlu untuk belajar untuk mengembangkan pola kreatifitas dengan cara mengembangkan domain psikomotornya. Jadi domain psikomotor itu perlu diketahui oleh setiap manusia, karena domain psikomotor berperan penting dalam proses perkembangan manusia menuju dewasa. Selain itu jika sistem kreatifitas manusia dikembangkan, maka akan membuat manusia tersebut menjadi manusia yang kreatif, dengan kretifitas menjadikan hidup menusia menjadi berwarna dan lebih bermakna.
Belajar pada hakikatnya selalu terintegrasi dengan kehidupan manusia, demikian juga binatang. Peristiwa yang dialami baik oleh manusia ataupun hewan pada dasarnya merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dalam arti kata bahwa tanpa belajar manusia ataupun binatang, maka kelangsungan hidupnya akan terancam.
Gerak adalah suatu penampilan yang ditampilkan oleh manusia secara nyata dan dapat diamati. Menurut pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa gerak adalah perilaku manusia yang setiap saat dilakukan dan dapat diamati. Kemampuan motorik penting dipelajari dalam pelajaran pendidikan jasmani karena kemampuan gerak merupakan bagian dari ranah psikomotorik. Ada tiga komponen dasar dominan psikomotor, yaitu: domain yang bersifat jasmani (psysical), kesegaran (fitness), dan permainan (play). Komponen bersifat jasmani terkait dengan status anatomis atau struktural. Komponen motorik berhubungan dengan kualitas gerak atau cara melakukan gerakan. Komponen kesegaran menunjuk pada kuantitas gerakan, atau seberapa lama gerakan yang dilakukan dapat dipertahankan, dan komponen bermain menyajikan akumulasi perkembangan domain psikomotor.
Jadi domain psikomotor dalam belajar gerak itu berhubungan dalam proses belajar gerak. Dalam belajar gerak manusia menggukan tiga komponen dasar dalam domain psikomotor, yaitu: 1) domain yang bersifat jasmani (psycal), kesegaran (fitness), dan permainan (play). Komponen bersifat jasmani terkait dengan status anatomis atau struktural. Komponen motorik berhubungan dengan kualitas gerak atau cara melakukan gerakan. Komponen kesegaran menunjuk pada kuantitas gerakan, atau seberapa lama gerakan yang dilakukan dapat dipertahankan, dan komponen bermain menyajikan akumulasi perkembangan domain psikomotor.


























DAFTAR PUSTAKA

Asep, P. 2012. (Diakses online pada hari Jum’at, 29 Agustus 2014 http://eprints.uny.ac.id/8851/1/bab%201%20%20-08603141027.pdf)

Mahendra, Agus. Modul Perkembangan Belajar Motorik , Modul 7 Keterampilan dan Taksonomi Gerak. Jakarta: Universitas Pendidikan Indonesia (diakses online pada hari Jum’at, 29 Agustus 2014 http://file.upi.edu/Direktori/FPOK/JUR._PEND._OLAHRAGA/196308241989031-AGUS_MAHENDRA/Modul_Perkembangan_%26_Belajar_Motorik_Agus_Mahendra/Modul_7-_Keterampilan_dan_Taksonomi_Gerak.pdf )

Ma’mun, Amung dan Yudha M. Saputra. 2000. PERKEMBANGAN GERAK DAN BELAJAR GERAK. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jendral Pendidikan dasar dan Menengah (diakses online pada hari Jum’at, 29 Agustus 2014 http://file.upi.edu/Direktori/FPOK/JUR._PEND._KESEHATAN_%26_REKREASI/PRODI._ILMU_KEOLAHRAGAAN/195911041986011-BADRUZAMAN/Tugas_Perkem_%26_bljar_gerak.pdf )