Minggu, 31 Agustus 2014

DOMAIN PSIKOMOTOR DALAM BELAJAR GERAK

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Manusia mulai dari saat lahir hingga mati pasti bergerak. Walaupun saat tidur, manusia pasti melakukan gerakan. Manusia bergerak dalam dua metode, yaitu bergerak secara sadar dan tidak sadar. Yang yang sadar yakni melakukan aktivitas sehari, seperti berjalan, berlari, melompat, melompat, dan lain-lain. Sedangkan gerakan yang tanpa sabar yakni gerakan-gerakan pada organ dalam, seperti gerakan diafragma saat melakukan pernafasan, berkedip, dan lain-lain.
Ada beberapa Istilah yang sering digunakan dalam studi tentang gerak manusia (human movement). Istilah tersebut adalah ilmu gerak, kinesiologi, human performance, dan pendidikan jasmani. Istilah istilah ini sering kali terdengar saat ada perbincangan tentang gerak. Selain istilah-istilah tersebut, saat ini mulai sering terdengar juga istilah yang membahas tentang gerak manusia, yaitu pertumbuhan dan perkembangan motorik. Pada ilmu ini pembahasan tentang gerak lebih detail, mulai dari saat manusia mulai tumbuh dalam janin hingga mati. Dan juga pergerakan manusia dari mulai dibuahi oleh induk telur hingga manusia muncul dan mengalami berbagai perubahan hingga mati.
Dalam makalah yang dibuat oleh Ma’mun dan Saputra, mengatakan bahwa perilaku gerak manusia terbagi dalam tiga bagian, yaitu teori gerak (motor control), belajar gerak (motor learning), dan perkembangan gerak (motor development). Teori gerak adalah studi mengenai factor-faktor fungsi syaraf yang mempengaruhi gerak manusia. Belajar gerak merupakan studi tentang proses keterlibatan dalam memperoleh dan menyempurnakan ketrampilan gerak sangat terkait dengan latihan dan pengalaman individu bersangkutan. Dan perkembangan gerak merupakan perubahan dalam perilaku gerak yang mereflesikan interaksi dari kematangan organisme dan lingkungannya.
Menurut dari pengertian dan penjelasan diatas, maka penulis berinisiatif untuk menjabarkan tentang psikomotor, belajar, dan gerak disatukan dalam tema “domain psikomotor dalam belajar gerak”. Makalah ini dibuat guna untuk memenuhi tugas mata kuliah pertumbuhan dan perkembangan motorik yang dibimbing oleh Dr. Supriadi, M. Kes.
1.2  Rumusan Masalah
Dalam makalah ini aka ada beberapa rumusan masalah-masalah yang akan dijelaskan secara rinci. Rumusan masalah tersebut yaitu:
1.2.1        Apa itu Domain Psikomotor?
1.2.2        Apa itu Belajar?
1.2.3        Apa itu Gerak?
1.2.4        Apa itu Domain Psikomotor Dalam Belajar Gerak?
1.3  Tujuan Penulisan
Agar makalah ini lebih berguna untuk penulis, dosen pembimbing dan juga pembaca, maka ada beberapa tujuan dalam penulisan ini makalah ini, yaitu:
1.3.1        Untuk memenuhi tugas mata kuliah Pertumbuhan dan Perkembangan Motorik
1.3.2        Agar dapat memahami tentang domain psikotor pada manusia
1.3.3        Agar dapat memahami tentang belajar
1.3.4        Agar dapat memahami tentang gerak
1.3.5        Agar dapat memahami tentang domain psikomotor dalam belajar gerak











BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Domain Psikomotor
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia kata “domain” artinya adalah wilayah; tanah. Domain juga sering diidentikan dengan internet. Banyak para ahli yang mengartikan domain berkaitan dengan internet. Misalnya Irene Joos dan Nancy mendefinikan kata domain adalah identitas sebuah website di internet. Dan Yuhefizar mengatak bahwa domain adalah nama unik yang dimiliki sebuah website yang terdiri dari dua bagian dan dipisahkan oleh sebuah titik. Namun dalam makalah ini domain bukan diartikan sebagai wensite, namun domain yang berhubungan dengan perkembangan sistem gerak manusia atau kemampuan motorik manusia.
Kemampuan motorik adalah suatu yang mendasar dalam kehidupan setiap orang. Gerak adalah suatu penampilan yang ditampilkan oleh manusia secara nyata dan dapat diamati. Kemampuan motorik penting dipelajari dalam pelajaran pendidikan jasmani karena kemampuan gerak merupakan bagian dari ranah psikomotorik.  Ada tiga komponen dasar dominan psikomotor, yaitu: domain yang bersifat jasmani (psysical), kesegaran (fitness), dan permainan (play). Komponen kesegaran menunjuk pada kuantitas gerakan, atau seberapa lama gerakan yang dilakukan dapat dipertahankan, dan komponen bermain menyajikan akumulasi perkembangan domain psikomotor. Adapun unsur-unsur kemampuan motorik terdiri dari: (1) kekuatan, (2) kecepatan, (3) power, (4) ketahanan, (5) keseimbangan, (6) fleksibilitas, dan (7) koordinasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan motorik adalah faktor tampilan dan faktor lingkungan. Faktor tampilan paling sering berpengaruh pada kemampuan motorik tertentu, faktor tampilan dapat berupa ukuran tubuh, pertumbuhan fisik, sistem saraf, kekuatan dan berat tubuh.
Dari beberapa ahli psikologi pendidikan yang relative sederhana namun bisa diterima oleh masyarakat luas, yaitu teori dari Benyamin Bloom. Benyamin Bloom mengatakan bahwa proses pembelajaran yang dialami manusia itu menempuh tiga jalur utama, yaitu pertama yang berkaitan dengan domain kognitif, kedua domain efektif, dan yang ketiga domain psikomotor. Lewat pendapatnya tersebut, maka banyak pamikiran-pemikiran yang dimiliki oleh masyarakat tentang proses belajar mulai berkembang dan mulai berfikir bahwa proses belajar tidak hanya ada diranah atau lingkungan sekolah saja, namun proses belajar ada disekitar masyarakat luas.
Pengertian dari ketiga jalur atau domain tersebut, yaitu domain kognitif adalah domain yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan intelektual, seperti pengertian, pengetahuan, dan ketrampilan berfikir. Domain afektif yaitu berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri. Dan domain psikomotor adalah domain yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek ketrampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.
Jadi dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa domain psikomotor itu adalah cara atau proses belajar yang bersifat kemampuan motorik manusia. Manusia tidak hanya belajar untuk mengembangkan pola berfikir tentang ilmu pengetahuan saja, namun juga perlu untuk belajar untuk mengembangkan pola kreatifitas dengan cara mengembangkan domain psikomotornya. Domain psikomotor ini sebenarnya sudah mulai sejak manusia dilahirkan didunia. Contohnya bayi mulai mengenali keadaan sekitar atau lingkungannya, hal ini dilakuannya untuk beradaptasi, karena manusia mempunyai salah satu sifat yaitu adaptasi.
Jadi domain psikomotor itu perlu diketahui oleh setiap manusia, karena domain psikomotor berperan penting dalam proses perkembangan manusia menuju dewasa. Selain itu jika sistem kreatifitas manusia dikembangkan, maka akan membuat manusia tersebut menjadi manusia yang kreatif, dengan kretifitas menjadikan hidup menusia menjadi berwarna dan lebih bermakna.

2.2 Belajar
Belajar pada hakikatnya selalu terintegrasi dengan kehidupan manusia, demikian juga binatang. Peristiwa yang dialami baik oleh manusia ataupun hewan pada dasarnya merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dalam arti kata bahwa tanpa belajar manusia ataupun binatang, maka kelangsungan hidupnya akan terancam. Hergenhahn dan Olson (1993) menyimpulkan bahwa, kemampuan one trial learning dari binatang merupakan pelengkap dari instingnya agar binatang tersebut dapat mempertahankan kehidupannya. Demikian pula halnya dengan manusia, agar mereka bisa terus mempertahankan hidupnya, maka mereka dituntut untuk terus belajar, belajar, dan belajar hingga manusia tersebut maninggal.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Hergenhahn dan Olson (1993) menghasilkan definisi belajar, yaitu belajar adalah sebagian dari perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku yang merupakan hasil dari pengalaman dan tidak bercirikan tanda-tanda yang disebabkan oleh pengaruh yang bersifat sementara seperti yang disebabkan oleh sakit, kelelahan atau pengaruh obat-obatan. Ketika membaca definisi belajar dari Hergenhahn dan Olson tersebut maka dapat disimpulkan bahwa, mereka adalah peneliti yang beraliran behavioris, karena mereka menempatkan perilaku sebagai indikator perubahan yang diakibatkan oleh belajar. Oleh karena itu, maka orang yang beraliran kognitivis akan mendebatkan bahkan akan menolaknya. Contohnya, Mayer (1987) yang beraliran kognitivis mengajukan definisi belajar sebagai perubahan yang relative permanen dalam pengetahuan (knowledge) dan perilaku seseorang yang disebabkan oleh pengalaman.
Banyak ahli yang mengemukakan tentang jenis-jenis belajar. Salah satunya yaitu Robert Gagne (1977), mengemukakan lima domain tentang jenis belajar, yaitu: 1) ketrampilan gerak, yaitu gerakan berorientasi yang diwakili oleh oleh koordinasi respon terhadap tanda-tanda tertentu, 2) informasi verbal, yaitu dicontohkan melalui fakta-fakta, prinsip-prinsip, dan generalisasi, yang dianggap sebagai pengetahuan, 3) ketrampilan intelektual, yaitu diwakili oleh diskriminasi, peraturan, dan konsep-konsep (penerapan pengetahuan), 4) strategi kognitif, yaitu ketrampilan-ketrampilan yang terorganisir secara internal yang menentukan pembelajaran seseorang, pengingatan dan pemikiran, 5) sikap, yaitu perilaku efektif seperti perasaan.
Kemudian Mayer (1987) mencoba memberikan batasan-batasan jenis belajar menjadi empat, yaitu: 1) pembelajaran respon seperti yang ditunjukan oleh pembelajaran behaviorisme, 2) pembelajaran konsep, yang menunjuk pada penguasaan peraturan klasifikasi baru, yang didasarkan pada pengalaman, 3) pembelajaran verbal hapalan, yang melibatkan kemampuan untuk menghasilkan suatu dftar respon verbal, 4) pembelajaran prosa, yang menunjuk pada pembelajaran sematik baru atau prosedur pengetahuan dari tulisan atau prosa yang menyatakan secara verbal.
2.3 Gerak
Gerak adalah suatu penampilan yang ditampilkan oleh manusia secara nyata dan dapat diamati. Menurut pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa gerak adalah perilaku manusia yang setiap saat dilakukan dan dapat diamati. Kemampuan motorik penting dipelajari dalam pelajaran pendidikan jasmani karena kemampuan gerak merupakan bagian dari ranah psikomotorik. Ada tiga komponen dasar dominan psikomotor, yaitu: domain yang bersifat jasmani (psysical), kesegaran (fitness), dan permainan (play). Komponen bersifat jasmani terkait dengan status anatomis atau struktural. Komponen motorik berhubungan dengan kualitas gerak atau cara melakukan gerakan. Komponen kesegaran menunjuk pada kuantitas gerakan, atau seberapa lama gerakan yang dilakukan dapat dipertahankan, dan komponen bermain menyajikan akumulasi perkembangan domain psikomotor.
Adapun unsur-unsur kemampuan motorik terdiri dari: (1) kekuatan, (2) kecepatan, (3) power, (4) ketahanan, (5) keseimbangan, (6) fleksibilitas, dan (7) koordinasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan motorik adalah faktor tampilan dan faktor lingkungan. Faktor tampilan paling sering berpengaruh pada kemampuan motorik tertentu, faktor tampilan dapat berupa ukuran tubuh, pertumbuhan fisik, sistem saraf, kekuatan dan berat tubuh. Beberapa ahli menganggap bahwa sistem saraf merupakan faktor utama dalam penggunaan kemampuan motorik anak. Kesulitan terbesar untuk mengembangkan sistem saraf adalah cara mengontrol banyaknya kegiatan sendi gerak tubuh per unit. Pada satu lengan saja kira-kira ada 2600 unit gerak, 26 otot, dan 4 sendi. Namun melalui latihan, masing-masing unit gerak akan terkoordinasi. Faktor lingkungan juga mempengaruhi kemampuan motorik, motivasi untuk bergerak mungkin karena adanya stimulasi dari lingkungan, misalnya melihat sesuatu hal yang baru atau unik maka seseorang akan menuju ke arah tersebut. Sebaliknya kurang gerak untuk melakukan gerakan secara aktif akan menghambat perkembangan kemampuan motorik.
Maka perlu adanya ketrampilan gerak, agar manusia dapat melakukan setiap kegiatannya dengan baik dan benar. Keterampilan dapat menunjuk pada aksi khusus yang ditampilkan atau pada sifat di mana keterampilan itu dilaksanakan.  Banyak kegiatan dianggap sebagai suatu keterampilan, atau terdiri dari beberapa keterampilan dan derajat penguasaan yang dicapai oleh seseorang menggambarkan tingkat keterampilannya. Hal ini bisa terjadi karena kebiasaan yang sudah diterima umum untuk menyatakan bahwa satu atau beberapa pola gerak atau perilaku yang diperhalus bisa disebut keterampilan, contohnya menulis, memainkan gitar atau piano, menyetel mesin, berjalan, berlari, melompat, dan sebagainya.
Jadi, untuk memahami konsep gerak ini kita harus memahami secara komprehensif mengenai sub-sub disiplin keilmuan yang ada didalamnya. Apabila hanya sebagian yang dipahami, maka akan membuat sukar untuk lebih cermat memilah dan memilih istilah yang sesuai dengan substansinya.

2.4 Domain Psikomotor Dalam Belajar Grak
Domain psikomotor adalah cara atau proses belajar yang bersifat kemampuan motorik manusia. Sedangkan belajar gerak merupakan studi tentang proses keterlibatan dalam memperoleh dan menyempurnakan ketrampilan gerak sangat terkait dengan latihan dan pengalaman individu bersangkutan. Ada tiga tahapan dalam belajar gerak, yaitu: 1) tahapan verbal kognitif dan proses membuat keputusan lebih menonjol, 2) tahapan gerak memiliki makna sebagai pola gerak yang dikembangkan sebaik mungkin agar peserta didik atau atlit lebih trampil, 3) tahapan otomatisasi artinya memperhalus gerakan agar peforma peserta didik atau atlit menjadi lebih padu dalam melakukan gerakannya.
Jadi domain psikomotor dalam belajar gerak itu berhubungan dalam proses belajar gerak. Dalam belajar gerak manusia menggukan tiga komponen dasar dalam domain psikomotor, yaitu: 1) domain yang bersifat jasmani (psycal), kesegaran (fitness), dan permainan (play). Komponen bersifat jasmani terkait dengan status anatomis atau struktural. Komponen motorik berhubungan dengan kualitas gerak atau cara melakukan gerakan. Komponen kesegaran menunjuk pada kuantitas gerakan, atau seberapa lama gerakan yang dilakukan dapat dipertahankan, dan komponen bermain menyajikan akumulasi perkembangan domain psikomotor.





BAB III
PENUTUP

Penutup
Domain psikomotor itu adalah cara atau proses belajar yang bersifat kemampuan motorik manusia. Manusia tidak hanya belajar untuk mengembangkan pola berfikir tentang ilmu pengetahuan saja, namun juga perlu untuk belajar untuk mengembangkan pola kreatifitas dengan cara mengembangkan domain psikomotornya. Jadi domain psikomotor itu perlu diketahui oleh setiap manusia, karena domain psikomotor berperan penting dalam proses perkembangan manusia menuju dewasa. Selain itu jika sistem kreatifitas manusia dikembangkan, maka akan membuat manusia tersebut menjadi manusia yang kreatif, dengan kretifitas menjadikan hidup menusia menjadi berwarna dan lebih bermakna.
Belajar pada hakikatnya selalu terintegrasi dengan kehidupan manusia, demikian juga binatang. Peristiwa yang dialami baik oleh manusia ataupun hewan pada dasarnya merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dalam arti kata bahwa tanpa belajar manusia ataupun binatang, maka kelangsungan hidupnya akan terancam.
Gerak adalah suatu penampilan yang ditampilkan oleh manusia secara nyata dan dapat diamati. Menurut pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa gerak adalah perilaku manusia yang setiap saat dilakukan dan dapat diamati. Kemampuan motorik penting dipelajari dalam pelajaran pendidikan jasmani karena kemampuan gerak merupakan bagian dari ranah psikomotorik. Ada tiga komponen dasar dominan psikomotor, yaitu: domain yang bersifat jasmani (psysical), kesegaran (fitness), dan permainan (play). Komponen bersifat jasmani terkait dengan status anatomis atau struktural. Komponen motorik berhubungan dengan kualitas gerak atau cara melakukan gerakan. Komponen kesegaran menunjuk pada kuantitas gerakan, atau seberapa lama gerakan yang dilakukan dapat dipertahankan, dan komponen bermain menyajikan akumulasi perkembangan domain psikomotor.
Jadi domain psikomotor dalam belajar gerak itu berhubungan dalam proses belajar gerak. Dalam belajar gerak manusia menggukan tiga komponen dasar dalam domain psikomotor, yaitu: 1) domain yang bersifat jasmani (psycal), kesegaran (fitness), dan permainan (play). Komponen bersifat jasmani terkait dengan status anatomis atau struktural. Komponen motorik berhubungan dengan kualitas gerak atau cara melakukan gerakan. Komponen kesegaran menunjuk pada kuantitas gerakan, atau seberapa lama gerakan yang dilakukan dapat dipertahankan, dan komponen bermain menyajikan akumulasi perkembangan domain psikomotor.


























DAFTAR PUSTAKA

Asep, P. 2012. (Diakses online pada hari Jum’at, 29 Agustus 2014 http://eprints.uny.ac.id/8851/1/bab%201%20%20-08603141027.pdf)

Mahendra, Agus. Modul Perkembangan Belajar Motorik , Modul 7 Keterampilan dan Taksonomi Gerak. Jakarta: Universitas Pendidikan Indonesia (diakses online pada hari Jum’at, 29 Agustus 2014 http://file.upi.edu/Direktori/FPOK/JUR._PEND._OLAHRAGA/196308241989031-AGUS_MAHENDRA/Modul_Perkembangan_%26_Belajar_Motorik_Agus_Mahendra/Modul_7-_Keterampilan_dan_Taksonomi_Gerak.pdf )


Ma’mun, Amung dan Yudha M. Saputra. 2000. PERKEMBANGAN GERAK DAN BELAJAR GERAK. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jendral Pendidikan dasar dan Menengah (diakses online pada hari Jum’at, 29 Agustus 2014 http://file.upi.edu/Direktori/FPOK/JUR._PEND._KESEHATAN_%26_REKREASI/PRODI._ILMU_KEOLAHRAGAAN/195911041986011-BADRUZAMAN/Tugas_Perkem_%26_bljar_gerak.pdf )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar